Mengulas Puisi-Puisi Karya Rindang Yuliani

Ulasan Puisi "Serupa Batu Karang" "Emosi-Emosimu" dan "Tali-Tali Enggan" Karya Rindang Yuliani

Sebuah puisi adalah salah satu karya sastra yang dibebaskan dari beberapa titik anggapan-anggapan luar. Karena bersifat umum dan tersusun dari beberapa rangkaian diksi serta majas, tak sedikit pula orang-orang enggan mengulas puisi.

Dalam ulasan kali inipun, unsur-unsur yang tertera di sana berdasarkan penalaran saya pribadi tanpa maksud menghilangkan makna asli dari Penulis. Karena saya penikmat Puisi dan tertarik dengan karya Mba Rindang Yuliani, maka dari itu tugas ulasan pekan pertama ini saya tetapkan ke karya beliau. Let's we chek..



°• Unsur Intrinsik


Tema :

• Pada puisi Serupa Batu Karang, penulis mengangkat tema kehidupan. Perjuangan akan pahitnya kisah yang tergores pada tokoh dalam puisi tersebut.
• Di Puisi kedua yaitu Emosi-Emosimu, tokoh tunggal di sana berperan protagonis namun layaknya antagonis. Kemarahan atau perasaan marahnya serupa alibi demi memendam rasa yang tak wajar terungkap.
• Puisi Tali-Tali Enggan, bertemakan seseorang yang menyimpan rasa malas berkepanjangan.

Amanat :

Dari ketiga judul puisi di atas, menurut saya terdapat persamaan pesan dari pengarang yang ingin disampaikan kepada pembaca, diantaranya bahwa pengendalian diri itu amatlah penting, percaya diri, dan bijak dalam berpola pikir.

Point Of View

Puisi Serupa Batu Karang dan Emosi-Emosimu menggunakan sudut pandang orang ketiga tunggal. Karena di dalamnya menggunakan Kamu. Sedang puisi Tali-Tali Enggan menggunakan sudut pandang orang pertama tunggal. Sebagai bukti salah satu petikannya berbunyi "Aku kalah dengan enggan".

● Gaya Bahasa

Ketiga puisi tersebut termasuk dalam kategori sederhana sebab, diksinya ringan sementara penyampaiannya lugas dan tak terlalu sulit dimengerti. Seperti dalam sepotong petikan yang berbunyi :
Serupa batu karang
Hidupmu sulit, jerih, pilu

Frase sakit dan kengerian disampaikan menggunakan penggambaran batu karang yang acap kali diterpa ombak, badai, dan rintangan lainnya di lautan. Pengarang memadupadankan kata sederhana berarti dalam.

● Majas dan Diksi

Majas yang terdapat dalam puisi tersebut antara lain :
• Majas Asosiasi : Serupa batu karang, ketuk palu serupa kilat cahaya
• Majas Hiperbola : kamu menggigil gila, langit tak berhenti menghukummu, hidupmu diguyur malapetaka

Diksi yang terdapat di dalamnya : Ketuk palu, cadas, gersang.

● Ejaan Bahasa Indonesia

Secara keseluruhan bahasa dan metode penulisan sudah bagus. Kata-kata yang tersusun umum dan mudah dipahami pembaca. Namun, ada satu penempatan preposisi yang perlu diperbaiki seperti, pada puisi berjudul Serupa Batu Karang. Penggalannya berbunyi, kautegar, tak oleng.

Seharusnya kautegar dipisah menjadi kau tegar.


°• Unsur Ekstrinsik

Beberapa nilai yang terdapat dalam ketiga puisi tersebut adalah :

● Nilai Moral, terdapat pada puisi Emosi-Emosimu. Hampir keseluruhan isi puisi ini mengajarkan pembaca untuk lebih pandai menahan diri. Begitupun pada puisi Tali-Tali Enggan, yang tiap baitnya menuntun pembaca agar lebih mengutammakan pekerjaan tanpa menunda-nunda. Kemalasan yang tiada arti pun tak berguna.

● Nilai Sosial,
Serupa batu karang
Kau tegar, tak oleng
Bahagiamu ada, hanya tak terbayang
Doaku ada bunga di ujung hari menantimu


Penggalan bait tersebut, menunjukkan bahwasannya pengarang turut andil memberi dukungan pada tokoh kau yang diumpakan serupa batu karang.

● Nilai Sosial Agama, terdapat pada petikan Doaku ada bunga di ujung hari menantimu.
Karamnya jalan cerita kehidupan yang melelahkan meski tak merasakan sendiri namun, pengarang menunjuk pada kata "doaku" yang penggambarannya seakan-akan tidak luput dari permintaan tolong kepada Yang Maha Kuasa.






Puisi lengkapnya dapat kamu baca di http://www.ngodop.com/art/41/Serupa-Batu-Karang atau di http://www.ngodop.com/

Sorry for typos

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara-cara mengatasi writting block

Resensi Buku Eyang Sapardi; Hujan Bulan Juni

Biografi Reno Danarti